Selasa, 23 November 2010

Asem Buto

The African Baobab
Mengenal Lebih Dekat Asem Buto

shutterstock
Ilustrasi Pohon Baobab
KOMPAS.com -
Akhir pekan lalu, dua pokok pohon raksasa African Baobab (Adansonia Digitata) berhasil dipindahkan dari halaman sebuah perusahaan agrobisnis di Subang, Jawa Barat, ke lahan di sekitar Gedung Rektorat Universitas Indonesia (UI), di Depok, Jawa Barat. UI berencana memiliki 10 pokok pohon yang oleh masyarakat lokal dikenal dengan nama Kitambleg atau Asem Buto itu.
Apakah keistimewaan pohon yang kini diperkirakan berusia 160 tahun itu? Dan, mengapa Ul tertarik untuk memiliki pohon yang untuk memindahkan satu pokoknya saja membutuhkan biaya sekitar Rp 100 juta itu?
Rektor Ul, Gumilar Rusliwa Somantri, mengatakan, Ul akan meneliti secara lebih mendalam manfaat dari African Baobab. Pasalnya, menurut sebuah penelitian di Jerman, berbagai bagian dari pohon yang disebut Superfruit itu mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi dan berguna bagi kesehatan.
Kandungan vitamin C dari buah Baobab disebutkan sangat tinggi. bahkan hingga enam kali lebih banyak dari yang terkandung dalam jeruk. Kadar kalsiumnya lebih banyak dart yang terdapat di susu. Dan, bukan itu saja.
"Daun dart pohon ini dapat dipergunakan untuk bahan lalap atau sayur, yang mengandung mineral sangat tinggi," kata Gumilar.
Di Eropa, buah pohon Baobab diterima sebagai produk alam dari Afrika yang daging buahnya diproduksi dalam kemasan bubuk yang khusus dipergunakan masyarakat Eropa, sebagai penambah bahan untuk mengolah sup dan berbagai makanan olahan lainnya.
Kulit pohon Baobab tersebut juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat, seperti bahan membuat tali, dan pakaian. Berbagai kandungan zat dalam pohon itu juga dipergunakan sebagai ramuan dalam pengobatan tradisional.
"Program studi Herbal Medicine UI (program Strata 2) akan melakukan penelitian terhadap pohon tersebut," ujar Gumilar.
Menurut dia, pohon Baobab berpotensi menjadi pohon masa datang untuk mengawal peradaban manusia. Pohon ini juga dapat menjadi solusi dalam menghadapi kekurangan pangan, air dan energi pada isu pemanasan global, perubahan iklim dan pertambahan penduduk yang terus mengalami peningkatan.
"Kalau kita dapat mengonsumsi padi dengan kandungan nutrisi yang tinggi seperti yang ada dalam buah Baobab, kebutuhan vitamin dan lainnya sudah dapat terpenuhi hanya dengan mengonsumsi padi jenis ini," kata Gumilar.
Saat ini, sudah ada tujuh pohon African Baobab yang dikonservasi di UI. UI bekerja sama dengan PT Waskita Karya, perusahaan konstruksi yang memiliki peralatan berat, untuk memindahkan pohon-pohon yang tingginya sekitar 45 meter dan beratnya mencapai 50 ton itu.
Sebanyak 5 pohon dipindahkan dari lahan milik PT Rajawali Nusantara Indonesia, badan usaha milik negera yang bergerak di bidang pembuatan gula di Cirebon, Jawa Barat. Kelima pohon Baobab itu dipindahkan sekitar dua bulan lalu, dan kini sudah mulai tumbuh pucukpucuknya.
Adapun dua pohon yang terbaru, berasal dari lahan milik PT Sang Hyang Seri (SHS), perusahaan yang bergerak di bidang pertanian di Subang, Jawa Barat. Dalam waktu dekat, sebanyak tiga pohon Baobab lagi dari lahan SHS juga akan dipindahkan ke UI. Sehingga nantinya, UI akan memiliki 10 pohon Asem Buto tersebut. (dra/dari berbagai sumber)

kopas mania:        http://sains.kompas.com/read/2010/11/18/10433788/Mengenal.Lebih.Dekat.Asem.Buto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar